Sekapur Sirih

Posted: Juni 23, 2010 in Sekapur Sirih
Margiono

Margiono, Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)

Tidak ada yang memungkiri posisi dan peran strategis wartawan. Utamanya terkait dengan dimilikinya “kekuasaaan nyaris tak terbatas” dalam membentuk, megolah, dan mengelola opini publik. Sedemikian strategisnya, pers telah lama dinisbatkan sebagai salah satu dari empat pilar demokrasi. Realitas apapun yang diungkap media massa seolah dianggap sebagai kebenaran.

Positioning yang menunjuk pada tingginya kredibilitas pers ini, tidak bisa tidak, menuntut penyikapan profesional dari setiap pelaku profesi. Ironisnya, yang muncul justru kecemasan kolektif terhadap kinerja dan profesionalisme wartawan indonesia. Kita mahfum, tidak sedikit kalangan dalam masyarakat yang mengeluh, bahkan mengecam, kinerja wartawa indonesia.

Wartawan atau jurnalis Indonesia acap digenerallisasi sebagai pelaku profesi yang suka seenaknya. Tidak sungkan melanggar etika jurnalisme, menabrak norma hukum, hingga menerabas rambu tata nilai yang berlaku dalam masyarakat. kalau kode etik profesi saja tak dipahami, sulit membayangkan kinerja positif wartawan Indonesia bisa terwujud.

Booming penerbitan pers yang terjadi di awal era reformasi, kerap dituding sebagai salah satu penyebab menurunnya kualitas wartawan Indonesia. Saking banyaknya media cetak yang terbit, juga menjamurnya stasiun televisi, membuat profesi wartawan naik daun. Saat itulah rekrutmen wartawan langsung masif. kualifikasi standar pun acap diterabas, lantaran deman yang teramat tinggi. seakan-akan hanya berbekal tape recorder dan pulpen, siapapun bisa menjadi wartawan. Standar kompetensi dilupakan.
Realitas seperti ini tentu tak bisa dibiarkan. Kemerdekaan dan kebebasan pers yang membuncah di alam demokrasi mesti disikapi dengan mengedepankan etika profesi dan tanggung jawab profesional. Pers Indonesia harus menjadi pers yang cerdas dan mencerdaskan. Kebebasan yang dimiliki tak boleh diselewengkan untuk kepentingan yang sama sekali tidak terkait dengan profesionalisme wartawan.

Pada titik inilah, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) – sebagai organisasi wartawan tertua dan terbesar anggotanya di Indonesia – merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu. Setelah melalui serangkaian diskusi dan kajian dengan melibatkan praktisi pers dan kalangan cerdik pandai, PWI memandang perlumenyelenggarakan pendidikan tambahan untuk wartawan Indonesia. Inilah pematik awal berdirinya Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI), yang diresmikan bertepatan dengan peringatan Hari Pers Nasional, 9 Februari 2010.

Rencananya, setelah di Palembang – Sumatera Selatan, sekolah jurnalisme serupa akan menyusul didirikan di beberapa kota lain di Indonesia. Sesuai dengan tagline SJI: “Profesional, Beretika, Berwawasan”, seperti itu pula sejatinya tekad kami dalam meningkatkan profesionalisme dan kompetensi wartawan Indonesia.

Terima kasih kepada Kementrian Pendidikan Nasional, Unesco, dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan atas dukungan dan kerja sama yang baik untuk mewujudkan berdirinya dan terselenggaranya sekolah jurnalisme ini.

Selamat belajar kepada peserta didik angkatan I.

Palembang, 9 Februari 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s