“Sahilin, tokoh legendaries musik Batang Hari Sembilan”

Posted: Juni 24, 2010 in Suara SJI Angkatan I

Denny Andriyadi – Suara SJI, Palembang

Sailin maestro musik Batang Hari Sembilan

Sailin maestro musik Batang Hari Sembilan

Meskipun massa keemasanya telah berlalu, namun sosok legendaris Sahilin pemusik sekaligus pengarang maestro tembang Batang Hari Sembilan, kelahiran Dusun Benawa Kecamatan anjung Lubuk Ogan Komering Ilir (OKI) masih tetap dikenal banyak oleh masyarakat Palembang khususnya. Berbagai acara kesenian, baik di televisi, radio, maupun pagelaran budaya daerah Sumatera Selatan sudah beliau sambanggi. Sampai diusia senjanya semangat untuk bergelut dalam berkesenian tak pernah surut sedikitpun. Bahkan ia telah memilih kalau kesenian merupakan sebagai pilihan hidupnya.

Bujang Buntu, Sorak Sekundang, Tigo Serangkai sebagai bukti buah karyanya. Dendang berbentuk pantun bersambut tersebut, inspirasinya didapat dari alam sekitar kehidupanya yang didengar, dirasakan dan diresapinya. Kendati ia tunanetra, namun kehidupanya tidak terganggu dengan kekurangan tersebut, tetap menjalani keseharinya sebagaimana layaknya manusia normal.
Pengalaman luar biasa dirasakan langsung penulis, setelah bertahun-tahun menantikan moment ini, akhirnya bisa berjumpa dengan sang maestro di kediamanya di Jalan Pangeran Sido Ing Lautan Kelurahan 35 Ilir Kecamatan Ilir Barat (IB) II ini. Meski harus melewati luapan anak sungai Kedukan terlebih dahulu yang dalam membanjiri banyak pemukiman. Penulis pun bisa bercengkerama panjang leber. Kemudian ketika disinggung mengenai cikal bakal tumbuhnya jiwa kesenian, terutama kesenian daerah yang ada dalam dirinya, Bakat tersebut memang sudah diwariskan sejak dari ayahnya. “Dulu almarhum bapak senang nian samo lagu-lagu keroncong, Melayu, dan lagu daerah. Bahkan bapak marah-marah kalau sampai siaran radio yang lagi acara itu sampai dipindah.
Kemauan dirinya yang sangat kuat untuk mempelajari musik, mendapat dukungan penuh dari orang tuanya. Secara tekun ia terus belajar musik Batang Hari Sembilan, dibarenggi arahan dan dibimbing ayahnya, perlahan tapi pasti bakat itu mulai tumbuh subur. Sejak usia remaja dia sudah mulai menguasai dan menyanyikan sendiri musik Batang Hari Sembilan.
Lebih jauh mengenai inspirasi lahirnya sastra tutur berasal dari perubahan kehidupan alam sekitar dirinya. “Adonyo siang malem, naik turun, susah seneng, tuo mudo, itulah yang selalu aku pikirke dan dijadike pantun dalam tembang Bantang Hari Sembilan ini. Nah seperti musim hujan sampai banjir mak ini kan banyak yang sengsaro. Suaro jangkrik, udaro dingin dan sepi itu nandoke malam ari. Sedengkan bunyi kicau burung, suaro kedaraan, uwong begawe tandonyo siang hari. Nah dari suaro-suaro alam ini lah aku biso bedake mano siang, mano malem sampai biso jadi tembang pantun ,”. Ungkapnya.
Dia juga sebagai generasi pertama pemopuler tembang Batang Hari Sembilan. Dengan keterbatasan ada padanya tidak membuatnya menyerah malah lebih bisa memaknai kehidupan jauh lebih dalam lagi. Hal ini pula semakin membulatkan tekadnya untuk menekuni bidang musik daerah ini. Sejak tahun 72 hingga sekarang, kendati sudah jarang mengisi acara tv maupun radio karena pengaruh faktor usia senjanya, namun bila ada acara hajatan seperti pernikahan, sang maestro ini masih sering diminta untuk tampil. Sedangkan lagunya telah direkam dalam bentuk kaset sampai sekarang masih sering diperdengarkan di radio-radio lokal.
Selanjunya berkat ketekunannya dibidang music, beliau diberi sejumlah penghargaan seperti, Anugerah Batang Hari Sembilan 2009 oleh Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS) dan Gubernur Sumsel H Alex Noerdin, Penghargaan Dewan Kesenian Daerah (DKD) OKI 2007 atas jasa-jasanya dibidang seni budanya, Menteri Kebudayaan dan pariwisata RI 2007 sebagai Sang Maestro, dan DKP 2006 serta Komite Relawan Sedunia tahun 2000 lalu. Sang Maestro yang telah dikarunia seorang cucu, berpengharapan besar agar kedepannya kelak kesenian daerah ada generasi baru yang bisa meneruskan. Siapapun itu baginya tidak masalah asalkan selama tujunya demi melestarian kesenian dan kebudayaan ia akan merasa senang. (Denni)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s