Melongok kemeriahan Cap Go Meh di Pulau Kemaro

Posted: Juni 24, 2010 in Suara SJI Angkatan I

Haryanto – Suara SJI, Palembang

umat kong hucu

umat kong hucu

Mulai tukar angpau hingga minta jodoh
Puluhan ribu warga keturunan Tinghoa, setiap tahun selalu memadati Pulau Kemaro saat perayaan Cap Go Meh. Seperti yang kembali dilakukan Jumat (26/2) lalu. Namun ternyata warga pribumi pun banyak juga turut hadir disana. Ada yang memohon rezeki, kesuksesan hingga meminta jodoh.

Pulau Kemaro terletak ditengah Sungai Musi yang membelah Kota Palembang. Isi pulau itu ditumbuhi pepohonan rindang dan beberapa rumah ibadah. Nama Kemaro itu sendiri diambil dari bahasa Palembang yang berarti kemarau atau kering, karena pulau ini tidak pernah tergenang air sepanjang tahun kendati Sungai Musi meluap.

Dalam perayaan Cap Go Meh, ribuan masyarakat etnis Tionghoa maupun pribumi datang dari berbagai kota bahkan dari luar negeri seperti Singapura dan Malaysia berkunjung ke Pulau Kemaro untuk melakukan sembahyang atau berziarah. Perayaan ini berlangsung selama dua hari.
Perayaan Cap Go Meh sendiri menggambarkan kegiatan peribadatan yang sekaligus juga merupakan “perkawinan” budaya yang sebenarnya. Selain barongsai dan liong yang meramaikan malam puncak Cap Go Meh, hadir pula kelompok tanjidor dan penyembelihan kambing persembahan.
Nuansa peribadatan agama Buddha Tridharma dengan nuansa keislaman terasa begitu kentara di Pulau Kemaro, bercampur aroma dan padatnya asap hio yang dibakar. Ini tidak lain karena dalam sejarahnya Pulau Kemaro memang ada hubungannya dengan kedua agama tersebut.
Terbersit dalam legenda kisah cinta Fatimah dengan suaminya Tan Po Han berabad-abad lalu. Oleh karena itulah, selain bersembahyang kepada Thien (Tuhan Yang Maha Esa), umat yang datang pun bersembahyang untuk Dewa Bumi (Hok Tek Cin Sin), Buyut Fatimah, Dewi Kwan Im, Dewa Langit, Dewi Laut, dan juga penunggu Pulau Kemaro.
Selain garu/hio, serta perlengkapan peribadatan Tridharma lainnya yang banyak dibawa ke pulau itu, ada juga rangkaian bunga serta kambing yang dibawa masuk ke Pulau Kemaro. Syarat-syarat upacara memang beragam, seperti nasi kuning plus ayam panggang, nasi gemuk dan telur rebus, pisang dan beragam buah-buahan, serta opak dan jeruk purut.
Di beberapa sudut kelenteng, syarat upacara memang tampak memenuhi areal berdampingan dengan hio dan lilin serta garu yang dibakar. Dijadikannya Pulau Kemaro sebagai pusat kegiatan perayaan Cap Go Meh ketimbang sejumlah kelenteng dan wihara lainnya di Palembang, menurut informasi, karena selama ini mereka yang berdoa di Kelenteng Hok Ceng Bio banyak yang terkabul doanya.
Selain berdoa kepada para leluhur, masyarakat Tionghoa yang datang ke sini pun ada yang meminta jodoh serta meminta sukses dalam bisnis dan karier. Salah satunya adalah melalui tradisi tukar angpau.
“Saya dulunya juga pernah meminjam angpau. Terserah mau berapa pinjamnya. Tetapi sekarang hanya sembahyang saja. Giliran yang muda-muda meminjam angpau,” ungkap Armin, salah satu pengusaha di Palembang.
Semuanya diwakili 10 angpau (uang logam yang dibungkus dengan kertas merah). Angpau tersebut kemudian dibawa pulang dan ditaruh di laci di rumah atau di kantor. “Bila berhasil, tahun depan boleh membayarnya. Kalau belum berhasil, tidak bayar juga tidak apa-apa,” tambahnya.
Hal yang sama dikatakan Sakim, politisi PDIP keturunan Tionghoa. “Saya kalau meminta belum pernah, tapi kalau memberi sering. Ini sebagai bentuk rasa syukur kita dan memohon kepada leluhur untuk keberhasilan di tahun mendatang,” ungkapnya.
Tampak memang beberapa umat memberikan imbalan berkisar antara Rp 20.000 hingga Rp 100.000 kepada petugas penuntun. Itu mungkin, mereka yang telah sukses usaha maupun kariernya atau telah menemukan jodoh.
Memang, salah satu mitos yang dipercaya adalah bertemunya jodoh apabila kita memanjatkan doa saat Cap Go Meh di pulau Kemaro. “Hal ini diyakini karena Pulau Kemaro memang adalah tempat yang telah membuktikan kisah cinta sejati antara dua anak manusia yang berbeda kebudayaan ataupun asalnya,” tambah Sakim.
Hal ini juga yang membuat Alex, salah satu pengunjung yang rela datang dari Pekanbaru khusus untuk meminta jodoh. “Saya juga disuruh oleh keluarga, agar berdoa untuk enteng jodoh. Keluarga saya banyak yang bercerita tentang mujarabnya berdoa disini,” ungkap pria muslim ini.
Sementara itu, uang yang beredar di Pulau Kemaro bisa berkisar Rp 2 miliar. Sedangkan uang yang beredar di Sumsel selama perayaan Cap Go Meh bisa lebih dari itu. Di hari-hari biasa, Pulau Kemaro akan kembali sepi.
Kini para panitia akan sibuk membersihkan sisa-sisa upacara. Akankah permohonan pengunjung dipenuhi Dewa, mungkin ukurannya adalah banyak tidaknya pengunjung Cap Go Meh tahun berikutnya.
Ini karena mereka yang berhasil akan datang kembali mengembalikan uang yang dipinjamnya ataupun membawa anak-anak hasil perjodohannya yang dipercaya didapat setelah ke Pulau Kemaro melaksanakan Cap Go Meh.(**)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s