Biar Petani; Anak Harus ke Perguruan Tinggi

Posted: Juli 6, 2010 in Suara SJI Angkatan II

Muhidin Ferion, Suara SJI, Palembang

Pagi itu matahari belum menampakkan sinarnya, Jarum jam baru menunjukkan pukul 04.30 WIB. Pak Slamet begitu tetangganya kerab memanggil lelaki paru baya ini sudah bagun dari pembaringan. Sembari menunggu waktu Sholat Subuh, ia menikmati beberapa gelas air putih yang menurutnya punya hasiat yang luar biasa.
Tatkala Adzan Subuh mulai menggema, Slamet bergegas menuju pancuran yang didesainnya sendiri untuk mengambil air wudhu lalu berangkat ke Mushollah. Kemudian ia bergegas ke belakang rumah memberi makanana pada ternak peliharaannya kemudian menyantap hidangan bersama dengan anak-anaknya yang sudah dipersiapkan oleh sang istri tercinta.

Usai sarapan, Slamet memulai rutinitas sebagai seorang petani. Meski jarum jam baru menunjukan pukul 05.45 WIB, namun ia sudah memulai aktivitasnya. Mula-mula ia menggiring ke sembilan sapi ternaknya menuju hamparan rumput yang tak jauh dari areal persawahan, lalu menuju ke ladang membersihkan tanaman liar yang tumbuh diantara hamparan padi yang kini sudah berusia satu setengah bulan.
Tiga jam kini sudah berlalu, Slamet mulai melangkahkan kaki menuju sebuah pondok di tengah persawahan yang terbuat dari empat pilar kayu sebagai penyangga, dengan atap dari daun ilalang, satu buah papan tebal sebagai tempat duduk dan sebuah teko yang selalu setia menemani tatkala ia sedang dahaga.
Semilir angin yang berhembus, mengiringi perbincangan kami siang itu. Ayah dari tiga orang anak ini mulai mengisahkan perjalanan hidupnya hingga berhasil menyekolahkan anaknya sampai ke Perguruan Tinggi, berikut penuturannya kepada Muhidin Ferion (17/5/2010) Wartawan Suara SJI.
Saya dilahirkan disebuah dusun Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta, 1 Desember 1952, anak kedua dari 6 bersaudara buah kasih dari pasangan Hartono dengan Sakiem. Kedua orang tua saya adalah petani yang hidupnya pas-pasan. Itulah sebabnya ketika menginjak usia sekolah —SD sampai SLTA, saya merantau ke Kota Yogya untuk menimba ilmu. Meski masih kecil, saya sudah bisa membayangkan jika saya tidak sekolah maka masa depan tidak akan jauh beda dengan orang tua saya, bahkan mungkin bisa lebih prihatin.
Di Yogyakarta, saya melakukan apa saja yang penting halal demi sebuah cita-cita yakni Sekolah hingga selesai.
Alhamdulillah, pada tahun 1971 saya berhasil menyelesaikan Sekolah di SMA Taman SIswa Yogyakarta. Singkat cerita, pada tahun itu pula saya merantau ke Palembang atas saran dari guru saya untuk mengabdikan ilmu di Sebuah Sekolah Dasar (SD) Taman Siswa yang berada di Kecamatan Mariana, Kabupaten Banyuasin – Sumatera Selatan.
Selama kurang lebih 9 tahun saya mengajar di Sekolah tersebut, tepatnya pada tahun 1980 saya menikah dengan Turiah wanita pilhan saya. Dua tahun kemudian, saya dikarunia seorang anak. Ternyata setelah berkeluarga kebutuhan semakin banyak, justru itu saya banting setir menjadi seorang Petani meskipun tugas mengajar tetap saya lakukan.
Mula-mula saya membeli tanah dengan luas kurang lebih 2 hektar lalu digarap menjadi persawahan.
Saat itu, hampir semua waktu saya habiskan di sawah hingga akhirnya di opname selama satu minggu karena terlalu memporsir tenaga. Setelah sembuh, saya membeli seekor sapi untuk membantu membajak disawah. Alhasil, tenaga yang selama saya habiskan untuk menggarap sawah sudah mulai terbantu dengan seekor sapi.
Ketika memulai usaha dalam bidang pertanian, saya sering kali menemu kegagalan dalam panen, hal ini terjadi jika padi-padi yang saya tanam di serang hama, dimakan tikus atau di rusak babi, tapi saya tidak pernah menyerah dan selalu bersabar. Sebagai orang yang kebetulan dipercaya sebagai ketua Kelompok Tani dengan nama Sidodadi, selain bertukar pikiran dalam hal pertanian, saya juga memberikan dorongan kepada puluhan anggota Kelompok Tani yang saya bina untuk bersabar jika mengalami kegagalan.
Seiring dengan perjalanan waktu, kini anak saya sudah tiga orang, sawahpun sudah terus menghasilkan, Saya bertekad bahwa hidup ini harus punya prinsip. Maka mulai saat itu, lebih dari separuh dari hasil sawah yang tidak dimakan saya jual dan di tabung ke bank.
Alhamdulillah, ketika anak-anak sudah mulai membutuhkan biaya untuk sekolah, saya tidak pusing lagi karena semuanya sudah dipersiapkan. Meskipun sudah dipersiapkan dengan matang, masih saja ada kekurangan disana sini. Kalau terbentur masalah seperti ini, maka jalan saya ambil adalah menjual sapi.
Kini anak saya yang paling tua – Laksnono Tantoadi sudah tamat di Akademi Pelayaran dan sudah bekerja di salah satu perusahaan Pelayaran. Anak saya yang kedua –Amrih Budiarti berhasil menyelesaikan D-III bidang pemetaan dan bekerja sebagai PNS di Kabupaten Musi Banyusin. Sementara anak saya yang bungsu –Anggun Winarsih masih kuliah di Universitas Sriwijaya jurusan Telekomunikasi.
Meski demikian, saya selalu bilang dengan anak-anak Bapak sanggupnya menyekolahkan hingga Diploma Tiga, jadi kalau melanjutkan ke jenjang lebih tinggi usaha sendiri, karena sampai disinilah batas kemampuan yang saya miliki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s