Tria Gunawan Lestarikan Budaya Leluhur

Posted: Juli 6, 2010 in Suara SJI Angkatan II

Suzan Oktaria, Suara SJI – Palembang

Tria Gunawan

Tria Gunawan

Tria Gunawan (45) terus menorehkan beragam prestasi baik di kancah nasional maupun internasional. Bahkan di setiap kesempatan, pemilik Rumah Busana Tria ini tak pernah lupa membawa hasil karya tenunnya berupa kain songket Palembang. Pada tanggal 1 April hingga 5 April 2010 lalu Tria Gunawan menggelar fashion show di Arena Pasar Malam Indonesia di Den Haag Belanda.
Sosok perempuan Palembang ini berhasil mengubah pandangan orang mengenai kain tradisional yang selama ini dianggap kaku termasuk mengenalkan dan mengangkat nilai luhur kain songket Palembang. Kain songket merupakan warisan lelulur yang memiliki nilai tinggi. Kesulitan menenun dengan motif keemasan, membuat kain ini memiliki nilai dan harga cukup mahal. Hanya saja, motifnya yang terbatas tentu membuatnya sulit bersaing di pasaran.

”Karena sejak dulu bisa menjahit, saya tekuni profesi ini. Untuk jenis kain, saya pilih songket karena punya keunikan, kekhasan, dan potensi luar biasa. Hanya belum ada desainer yang menggarapnya secara serius,” kata perempuan kelahiran Palembang, 17 September 1965, ini.
Ulet dan Kerja keras
Keberhasilan yang diraih pemilik nama lengkap Alwantriati Tundrarizmi ini bukannya didapat begitu saja. Kerja keras, tekun, ulet, dan membekali diri dengan wawasan baru merupakan bagian dari prinsip hidup yang selalu dia kembangkan dalam merintis karier sebagai penjahit dan desainer pakaian ini.
Sarjana pertanian yang sebelumnya pernah berkarier di perbankan ini, memutuskan berkecimpung dalam bidang usaha tenun songket. Tria memutar otak agar tetap memiliki peran dalam keluarganya, terutama dalam hal keuangan. Dengan modal uang pensiun dini dari bank, Tria mengembangkan usaha tenun kain songket pada tahun 1997.
”Hasilnya bukan cuma usaha, tetapi ada idealisme mengembangkan songket,” katanya.

Waktunya banyak dihabiskan untuk membuat songket menjadi lebih indah dan variatif sehingga tetap diminati masyarakat. Untuk menjadikan songket lebih menarik, Tria menggunakan berbagai bahan tambahan, di antaranya benang emas dan tembaga. ”Dulunya yang biasa dipakai adalah benang emas, tetapi sekarang sudah mulai menggunakan benang tembaga,” kata Tria.
Kini, di rumahnya yang besar dan luas, di Jalan Anggar E-11, Kampus, Palembang, Tria bersama lebih kurang 63 karyawan mengembangkan usaha kain tenun songket dengan label Rumah Busana Tria. Tria juga memanfaatkan sekaligus menyulap ruang tamu menjadi ruang pajang karyanya.
”Kalangan ibu-ibu sudah sangat mengenal dengan Rumah Busana Tria,” katanya.

Upakarti dan Ide Kreatif

Ide kreatif Tria membuahkan hasil berupa penghargaan upakarti yang ia terima pada tahun 2006. Bentuk ide kreatif itu dengan memodifikasi songket tembaga dengan kain jumputan dan songket bordir. Bahkan, Tria bisa memodifikasi kain songket dengan batik. Ilmu membatik ia peroleh ketika mendampingi suaminya melanjutkan pendidikan di Yogyakarta. ”Khusus untuk songket yang dipadu dengan batik. Tahap awalnya adalah dengan membuat songketnya dulu, setelah itu baru dibatik,” kata Tria, yang memamerkan songket paduannya di butik miliknya.
Awalnya yang dikerjakan adalah songket yang dipadu dengan kain jumputan. Ternyata setelah dilempar ke pasar, kain songket yang dipadu dengan jumput buatan Tria diminati banyak orang.
Kreasi Tria memang unik. Selain mendesain bahan baku berupa kain jumputan, Tria pun mendesain bahan jadi berbentuk baju, rok dari bahan tersebut. Tak kalah menarik, ia yang memiliki keahlian secara otodidak ini pun menyiapkan sepatu, sandal, tas yang diambil dari sisa-sisa bahan untuk melengkapi setelan baju yang dikenakan. Bahkan, pernak-pernik aksesori seperti kalung, anting, cincin yang siap dipadankan dengan setelan baju yang dikenakan pelanggan.
Untuk mengerjakan satu setel songket (kain plus selendang) diperlukan waktu sekitar dua minggu. Itu pun baru berbentuk bahan polos, belum dimodifikasi macam-macam. Seperti menyiapkan benang, motif (mencupit) yang juga membutuhkan waktu dua minggu lamanya. Karena itu, kalau memang butuh bahan lebih banyak order akan diserahkan kepada koordinator. Mereka inilah yang akan menunjuk penenun songket berpengalaman untuk disetor kepada Tria.
Hingga kini Tria terus mencari terobosan baru agar usahanya tetap eksis dan lebih berkembang menapaki pangsa pasar yang lebih luas—dari kalangan ibu-ibu, anak-anak, dan remaja. Pasalnya selama ini, konsumen kain songket Rumah Busana Tria hanya kalangan atas.
Berbagai penghargaan yang pernah diperoleh Tria mulai dari Upakatri Kategori IKM Modern Tahun (2006), Kriya Nusantara Terbaik dari Ketua Umum Dekranas Pusat (2006), Kriya Potensi Ekspor dari Menteri Perdagangan (2006), Wanita Pengusaha Berprestasi dari DPP Iwapi (2007), Anugerah Produktivitas Siddhakarya dari Gubernur Sumsel (2007), Cipta Kreasi Indonesia untuk Kriya Potensi Daerah dari Ketua Umum Dekranas Mufidah Yusuf Kalla (2009) hingga Kartini Awards, sebagai Perempuan Indonesia Terinspiratif dari Ny Ani Susilo Bambang Yudhoyono (2009) dan 1’st Royal Trophy ASEAN Silk di Thailand (2009).
Saat ini Tria berobsesi mengembangkan gerai di Jakarta dengan harapan songket Palembang semakin dikenal. (suzan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s