Mengasah Integritas dan Kompetensi Jurnalis

Posted: Juli 8, 2010 in SJI Sumsel di Mata Media

Sumber: http://www.koran-jakarta.com/print-berita.php?id=48717
Rabu, 31 Maret 2010 02:00

Sekolah Jurnalistik Indonesia (SJI) menjadi jawaban untuk meningkatkan kemampuan wartawan dalam menjalankan profesinya. SJI diharapkan mampu melahirkan wartawan-wartawan yang memiliki integritas dan kompetensi. Profesi wartawan membutuhkan pengetahuan yang luas. Sebagai penyampai informasi, wartawan bertugas sebagai pengawas jalannya pemerintahan serta fungsi sosial lainnya, yang membuat mereka harus benar- benar memahami apa yang mereka kritisi. Tak berlebihan jika profesi ini menuntut kemampuan yang terus berkembang sesuai zaman.

Untuk terus mengembangkan kemampuan seorang jurnalis, dibutuhkan sekolah yang tepat untuk itu. Salah satunya adalah Sekolah Jurnalistik Indonesia (SJI) yang didirikan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatra Selatan (Sumsel) bekerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Unesco, serta Kementerian Pendidikan Nasional di Palembang.

Sekolah ini diharapkan bisa menjadi kawah candradimuka bagi para wartawan Indonesia untuk terus mengembangkan kemampuannya dalam menjalankan profesinya. Keberadaan SJI juga disambut antusias para wartawan di Sumsel yang selama ini belum pernah mendapatkan pendidikan resmi khusus jurnalistik. Rian, wartawan muda yang menjadi salah satu peserta pelatihan SJI, mengaku ini kali pertama bagi dia mengikuti pendidikan jurnalistik yang mendalam. “Saya baru kali ini mengikuti pendidikan jurnalistik.

Memang saya sudah mengenal ilmu jurnalis sejak di bangku kuliah, tetapi tidak mendalam seperti ini,” ujar Rian. Rian merupakan alumni Sekolah Tinggi Ilmu Politik (Stisipol) Candradimuka Palembang Jurusan Komunikasi. Dia mengaku sangat senang mengikuti pendidikan jurnalis di SJI karena materinya sangat profesional. “Sayang waktunya kurang lama, hanya satu bulan, jadi rasanya kita belum begitu banyak yang tahu,” ujarnya.

SJI Sumsel yang didirikan pada Februari 2010, bertepatan dengan Hari Pers Nasional (HPN) ke-64, 9 Februari 2010, yang kuliah perdananya dihadiri langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, berhasil mencetak alumni angkatan pertama.

Untuk angkatan pertama, SJI Sumsel telah meluluskan 22 dari 30 siswa SJI Sumsel yang mengikuti pendidikan. Tiga di antaranya dinyatakan belum lulus dan lima dinyatakan drop out karena tidak pernah mengikuti pelajaran. Siswa angkatan pertama itu telah diwisuda langsung oleh Gubernur Sumsel Alex Noerdin pada 5 Maret lalu. “SJI telah mengeluarkan 22 siswa yang dinyatakan lulus.

Mereka dinilai berdasarkan kemampuan selama mengikuti pelajaran satu bulan,” ujar Iman Hardiman, Kepala Sekolah SJI Palembang. SJI Sumsel merupakan yang pertama di Indonesia. Rencananya, sekolah serupa akan dibangun di Makassar, Riau, Semarang, Jakarta, dan Samarinda. Sebagai pionir pendidikan jurnalis yang dibiayai langsung oleh pemerintah, para siswa SJI Palembang tidak dipungut biaya. Selain mendapat pendidikan gratis, siswa SJI mendapat berbagai fasilitas seperti alat tulis, pakaian, hingga uang transportasi.

Alex Noerdin sebagai pemilik ide pendirian SJI Sumsel mengatakan pendidirian sekolah jurnalistik itu merupakan tanggapan atas program yang diberikan oleh Yayasan Jurnanlisme. Tujuan dari sekolah ini adalah agar wartawan yang terjun ke lapangan benarbenar memiliki kompetensi dan integritas tinggi. “Kita harapkan ke depan dengan adanya sekolah jurnalistik ini tidak ada lagi wartawan yang hanya mencari informasi dan menyampaikannya, tetapi ke depan PWI mampu melahirkan wartawan profesional dan mandiri yang mampu menjawab tantangan,” ujar Alex.

“Saya senang dengan lembaga ini. Memang harus ada standar profesi wartawan, jangan sampai mereka hanya modal kartu nama dan ID card, padahal medianya tidak jelas.

Perlu adanya standar. Kalau tidak, itu akan menjatuhkan nama baik wartawan itu sendiri,” jelas Alex. Untuk angkatan pertama saja Pemprov Sumsel telah mengeluarkan dana lebih dari 200 juta rupiah untuk para siswa dan tenaga pengajar selama satu bulan.

Dana tersebut diambil langsung dari kas Anggaran Belanja Daerah (APBD) dan dibantu oleh pihak sponsor.

Kepala Sekolah SJI Sumsel Iman Hardiman mengatakan jenjang pendidikan di lembaga ini terdiri dari tiga tahap, dasar untuk wartawan pemula, menengah (redaktur, penulis senior, atau setaranya), serta lanjutan bagi kalangan pelaksana dan penanggung jawab redaksi.

Masa pendidikannya satu bulan. Sementara metode pembelajarannya merupakan gabungan teori dan praktik dengan tiga metode, yakni ceramah, diskusi, dan praktik.

“Kita berikan kesempatan kepada wartawan muda di Sumsel, dan ini tidak tergantung pada level jabatannya di media bersangkutan, apakah redaktur pelaksana, redaktur, atau pemula, ini tergantung pada diri seorang jika mereka masih kurang dalam pendidikan,” ujar Iman.

Kurikulum Internasional Kurikulum masing-masing program mengacu pada rumusan kompetensi jurnalisme menurut UNESCO Model Curricula For Jurnalism Education (2007).

Kalangan pengajar adalah para wartawan senior seperti Ashadi Siregar, Wina Armada, Tribuana Said, Priyambodo, E Soebekti, Parni Hadi, Arya Gunawan, Leo Batubara, Ishadi SK, dan Sabam Siagian.

“Para pengajar berasal dari kalangan akademisi, profesional, dan praktisi pers. Lebih kurang ada 30 pengajar yang setiap angkatan kita bikin 12 pengajar,” tutur Iman.

Iman Hardiman yang juga pemimpin redaksi koran Berita Pagi mengatakaan sebagai wadah pengembangan profesi kewartawanan di Tanah Air, SJI Sumsel memunyai beberapa mata pelajaran bagi para siswa sebagai bekal untuk profesinya, misalnya Filosofi Profesi Jurnalisme, Etika Jurnalisme, Hukum Pers, Dasar Jurnalisme, Hubungan Pers dan Pemerintah, serta Keterampilan Standar Jurnalisme (teknik mencari berita, teknik menulis, wawancara, investigasi, dan sebagainya).

Semua mata ajaran yang diberikan kepada siswa SJI Sumsel akan mendapat penilai dari para guru, dan standar kelulusan siswa dimulai dari nilai di bawah 60 dinyatakan tidak lulus, 60-70 lulus dengan predikat sedang, 71 ke atas lulus dengan predikat baik.

“Walalupun mereka semua para wartawan, tetapi dalam penilaian kita tetap memberikan nilai sesuai dengan kemampuan, baik itu praktik maupun teori.

Wadah ini benar-benar untuk menciptakan jurnalis yang profesional dan mandiri,” katanya. Ditambahkan Iman, ke depan SJI Sumsel akan membangun gedung sendiri serta akan menambah jumlah siswa.

Diharapkan nantinya, seiring dengan kemajuan sekolah jurnalis, pesertanya bukan hanya berasal dari Sumsel, tapi juga dari luar Sumsel.

“Untuk angkatan kedua yang akan dimulai awal April ini sudah banyak peserta dari luar Sumsel yang mendaftar, termasuk dari Papua.

Sekolah tetap menerima mereka, hanya saja sekolah belum bisa memberikan akomodasi yang cukup,” ujar Iman.
PL/L-1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s