WARTAWAN HARUS HINDARI SUBJEKTIVITAS

Posted: Juli 8, 2010 in SJI Sumsel di Mata Media

12 Febuari 2010
Sumber : http://www.lbhpers.org/?dir=beritatampil&id=3033

Palembang, Para wartawan atau jurnalis dalam menjalankan tugas jurnalistik pembuatan berita, harus menghindari subjektivitas di dalam berita itu, kata ahli komunikasi, Zulkarimein Nasution, di Palembang, Kamis.

Pengajar komunikasi di UI itu, menjadi salah satu dosen tamu pada Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) Palembang sebagai cikal bakal sekolah jurnalisme di daerah di Indonesia yang diresmikan bersamaan puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) dan Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) di Palembang, 2-10 Februari 2010.

Menurut Zulkarimein yang juga Direktur SJI, terdapat empat elemen utama etik jurnalistik yang menjadi pedoman wartawan dalam mencari, menulis, dan menyajikan berita untuk dikonsumsi publik.

Dia menyebutkan, empat elemen tersebut adalah truthfullness (kebenaran), objektivitas (kondisi senyatanya), fairness (keadilan, jujur dan berimbang), serta akuntabilitas publik (bertanggungjawab kepada publik).

“Dalam pembuatan berita jangan sekali-kali menggunakan subjektivitas,” kata dia pula.

Selain keempat elemen tersebut, dia juga menyampaikan, sebagai seorang jurnalis, agar pemberitaan tidak kering atau `mandul` menjadi keharusan pula untuk memiliki pengetahuan atau wawasan yang luas agar ruang dalam menguraikan sebuah berita tidak terbatas.

Kemudian, dia mengingatkan pula agar dalam memilih nara sumber, seorang wartawan harus benar-benar mengetahui latar belakangnya, apakah berkompeten dalam memberikan pandangan atau penjelasan untuk sebuah permasalahan atau tidak.

Menurut dia, peran seorang wartawan dalam menjalankan tugas memiliki peran yang sangat besar dalam mengungkap suatu kebobrokan di lingkungan birokrasi dan tempat lain.

“Jadi, jangan dianggap remeh pekerjaan wartawan, dengan senjatanya berupa tulisan dan bahasa, dia mampu meruntuhkan kedudukan penguasa,” kata dia pula.

Modal Kepercayaan

Zulkarimein juga menegaskan bahwa kepercayaan merupakan modal utama bagi seorang jurnalis, karena tanpa disertai kepercayaan, tidak akan diterima atau diakui keberadaannya di tengah-tengah masyarakat.

Menurut dia, tanpa disertai dengan kepercayaan, keterbukaan informasi di tengah masyarakat, pengakuan serta pemberian akses untuk peliputan di tengah-tengah tanpa memihak, tidak akan tercapai.

Sedangkan seorang jurnalis, lanjut dia, tidak bisa lepas berinteraksi dengan masyarakat untuk menjadi narasumber maupun untuk menggali informasi yang diperlukan dalam pembuatan berita.

“Oleh karena itu, sebagai jurnalis harus memegang teguh etika jurnalistik sebagai barometer atau batasan dalam melakukan tugas penulisan,” kata dia lagi.

Dia menjelaskan, masih ada batasan ruang yang cukup jauh antara kondisi yang ideal bagi jurnalis dalam mencari berita, dengan realitas terjadi di lapangan.

Padahal kondisi tersebut, dapat mempengaruhi kredibilitas sebagai seorang jurnalis.

Ia mengharapkan, dengan terbentuk SJI Palembang yang pertama di Indonesia tersebut, akan dapat memberikan kontribusi kepada para wartawan dan menjadi tumpuan untuk perkembangan media massa di Indonesia.

Sebelumnya, perwakilan UNESCO di Indonesia, Arya Gunawan, juga menjadi dosen tamu SJI Palembang.Dia menyampaikan tiga hal pokok dalam menyajikan pemberitaan yang harus menjadi acuan bagi media massa, yaitu kebenaran, penghambaan kepada publik, dan disiplin verifikasi.

Menurut Koordinator Komunikasi dan Informasi UNESCO kantor Jakarta itu, dalam menyajikan sebuah berita hendaknya memiliki nilai-nilai yang dapat memberikan kontribusi positif kepada masyarakat luas,

Dia menyatakan, meski dalam praktik di lapangan masih mendapatkan hambatan guna mengakses sebuah informasi, jurnalis tetap harus mengedepankan kredibilitas sebagai seorang jurnalis atau pembuat berita yang profesional.

Ia mengingatkan pula, dalam melakukan peliputan, seorang wartawan perlu melakukan serangkaian persiapan baik teknis maupun nonteknis.

“Seorang wartawan dituntut untuk dapat mempersiapkan diri sebelum melakukan pekerjaan mencari berita, seperti penguasaan isu yang akan dipublikasikan terhadap khalayak ramai dalam sebuah media massa,” kata dia pula.

Dia juga menegaskan bahwa verifikasi merupakan hal pokok yang harus diperhatikan oleh para wartawan, mengingat tidak semua yang diperoleh dari seorang nara sumber adalah akurat.

Karena itu, perlu dilakukan penyesuaian data agar berita yang dihasilkan berimbang serta dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Prinsip-prinsip wartawan yang profesional itu, lanjut Arya, bertujuan agar kehidupan dunia jurnalistik lebih maju dan berkarakter.

SJI Palembang yang merupakan wujud kepedulian organisasi wartawan di Indonesia, bertujuan untuk mendorong penguatan SDM dan menciptakan wartawan yang profesional, beretika, dan berwawasan.

Siswa SJI Palembang itu sebanyak 30 orang yang mewakili media massa lokal dan nasional di daerah ini.

Sekolah yang ditujukan untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) di kalangan jurnalis itu diikuti 30 yang berprofesi sebagai wartawan delegasi dari sejumlah media lokal maupun nasional di daerah tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s