SJI Cikal Bakal Pencetak Jurnalis Handal

Posted: Juli 20, 2010 in SJI Sumsel di Mata Media

Posted in Pumpunan by Redaksi on Februari 17th, 2010
Sumber: http://hariansib.com/?p=111861

Cikal bakal sekolah jurnalisme (“school of journalism”) di daerah-daerah di Indonesia mulai beroperasi di Kota Palembang, Sumatra Selatan (Sumsel).
Bersamaan puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) dan Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas), di kota “empek-empek”, 2-10 Februari 2010, Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) Palembang resmi beroperasi.
Peresmian sekolah jurnalistik pertama di daerah yang didukung penyelenggaraannya oleh PWI Pusat, UNESCO, dan Pemprov Sumsel itu, dilakukan Gubernur Sumsel H Alex Noerdin, Senin (8/2), di Balai Diklat Provinsi Sumsel di Palembang.

Sebanyak 30 wartawan dari berbagai media massa di Palembang dan Sumsel menjadi “siswa” SJI, dengan pendidikan berlangsung selama sekitar satu bulan (empat minggu) setiap hari kecuali Sabtu dan Minggu, selama empat jam per hari.
“Tiap hari dosennya berganti, dan sengaja dipilihkan para pengajar yang berkelas, profesional serta mumpuni,” kata Ketua PWI Sumsel, H Ocktap Riyadi.
Sehari setelah SJI diresmikan, bersamaan puncak peringatan HPN tahun 2010, 9 Februari, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan kuliah perdana, dengan dipandu presenter TV One, Tina Talisa.
Menjadi dosen tamu di SJI, Presiden SBY kepada para wartawan—di antaranya wartawan muda, termasuk dari LKBN ANTARA Biro Sumsel—banyak menyampaikan tentang berbagai persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia dan upaya mengatasinya.
Menurut Presiden, bangsa Indonesia harus terus membangun dalam lingkungan global yang selalu berubah dan berkembang, dunia yang sedang tidak dalam situasi statis dan tak pernah diam.
SBY menyebutkan, sedikitnya enam tantangan besar akan dihadapi bangsa Indonesia ke depan, yaitu keamanan dunia, seperti di Timur Tengah, masih adanya benturan peradaban (“clash of civilization”), konflik ideologi, konflik perebutan pangan, energi dan air, dan kelima ancaman epidemi penyakit yang sangat berbahaya, serta keenam ancaman perubahan iklim yang membawa dampak bagi seluruh manusia di dunia ini.
Sebelumnya, saat puncak HPN, Presiden SBY juga kembali mengingatkan pers nasional, untuk terus mendukung dan mendorong terbangun demokrasi yang benar-benar berorientasi dari dan untuk rakyat.
Pers nasional dengan kekuatan yang dimiliki, diharapkan dapat menggunakannya untuk tujuan yang konstruktif.
Demokrasi yang ingin dicapai negeri ini, menurut Presiden, bukanlah yang berpusat pada negara, dan bukan pula yang berpusat pada media massa, tapi demokrasi yang benar-benar bertumpu pada kekuatan rakyat.
Ketua PWI Pusat, Margiono menyatakan, kondisi saat ini menjadi pertaruhan bagi pers nasional yang semakin banyak mendapatkan keluhan dari masyarakat luas.
Kendati sudah banyak dilakukan pelatihan untuk para wartawan, namun masih banyak pula insan pers yang kemampuannya sangat memprihatinkan baik secara nasional, apalagi di daerah-daerah.
Margiono menyebutkan banyaknya keluhan dari masyarakat, pejabat pemerintah dan narasumber, akibat berita yang tidak berimbang, tidak berkode etik dan perilaku wartawan yang tidak baik.
Karena itu, para wartawan harus meningkatkan pengetahuan dan pendidikannya, agar menjadi lebih kompeten serta profesional.
Gubernur Sumsel, H Alex Noerdin menegaskan bahwa Pemprov setempat mendorong adanya SJI itu dirintis dan berjalan di Palembang sebagai percontohan (pilot project) nasional.
Alex mengingatkan bahwa wartawan adalah profesi yang berbahaya kalau tidak dibekali dengan pendidikan, pengetahuan serta etika dan perilaku yang baik.
“Wartawan itu makhluk yang berbahaya karena dapat membangun opini menjadi baik atau buruk. Banyak bisa ditulis sedikit, benar bisa ditulis salah oleh wartawan, sehingga harus berhati-hati dalam menulis,” ujar dia lagi.
SJI angkatan pertama di Palembang itu, menurut Alex, disokong Pemprov Sumsel merupakan bentuk kepedulian Pemprov Sumsel terhadap pendidikan, khususnya bagi para wartawan di daerahnya.
Siswa SJI sebanyak 30 wartawan itu, tidak dikenai biaya. Mereka justru mendapatkan sejumlah fasilitas, antara lain makan siang dan uang saku maupun perlengkapan pendidikan lainnya.
Bertindak selaku Ketua Yayasan SJI adalah Marah Sakti Siregar, Direktur SJI Zulkarimein Nasution (pakar komunikasi/dosen UI), dan pengelola sekolah terdiri kepala sekolah dan unsur pelengkap lainnya.
Sebanyak 42 narasumber nasional dan lokal telah pula dipersiapkan mengisi materi dalam sekolah itu, baik materi teori jurnalisme, praktik jurnalisme, ideologi dan kode etik pers dan berbagai materi penting lainnya untuk bekal menekuni profesi wartawan.
Gedung Permanen
Ketua PWI Sumsel, Ocktap Riyadi menegaskan bahwa untuk sementara lokasi SJI “meminjam” salah satu ruangan di kantor Badan Diklat Pemprov Sumsel, sambil menunggu kesiapan gedung sekretariat PWI setempat yang sedang diselesaikan pembangunan dan renovasinya.
Selanjutnya, setelah gedung PWI Sumsel itu rampung dan dapat digunakan, SJI Palembang akan ditempatkan di salah satu ruangan di sana secara permanen dengan berbagai fasilitas pendukung yang disediakan.
Dia merincikan pula, untuk angkatan pertama, pengelola setidaknya menyiapkan dana sekitar Rp200 juta untuk penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar SJI, antara lain untuk pembiayaan pada dosen tamu/dosen terbang, pimpinan media massa nasional, ahli komunikasi massa, profesional dan para pimpinan serta praktisi media massa di Sumsel.
“Biaya itu belum termasuk berbagai fasilitas pendukung dan sarana belajar lainnya,” kata Ocktap pula.
Ia menyebutkan, dukungan biaya dan fasilitas SJI antara lain berasal dari PWI Pusat, Pemprov Sumsel, dan UNESCO.
Target kurikulum siswa SJI adalah melaksanakan pendidikan sampai tiga tingkatan (level 1, 2, dan 3) yang diharapkan bisa berjalan secara bertahap setiap tingkatannya.
“Usai pendidikan angkatan pertama level satu, akan digelar angkatan kedua level satu, dan bertahap dilanjutkan angkatan pertama level dua, hingga tuntas sampai level tiga,” ujar Ocktap.
Menurut dia, setelah lulus, para siswa SJI yang juga para wartawan itu akan dikembalikan ke media massa masing-masing, dengan harapan dapat menerapkan ilmu yang diperoleh secara praktis dalam kegiatan jurnalistik sehari-hari.
“Pendidikan di SJI ini diharapkan menjadi fondasi bagi para wartawan pemula dan wartawan muda agar menjadi sosok wartawan yang luar biasa dan benar-benar profesional,” kata salah satu pimpinan koran harian (Harian Palembang Post) dari Grup Jawa Pos di Palembang itu pula.
Dia bahkan menyatakan, kendati angkatan pertama baru berlangsung, sudah disiapkan sesuai permintaan untuk melaksanakan pendidikan SJI angkatan kedua.
Sejumlah pihak juga menyatakan siap mendukung dan membantu kelancaran SJI itu, termasuk beberapa daerah di luar Sumsel yang berminat mencontoh dan melaksanakan pendidikan serupa di daerah masing-masing.
PWI Pusat, menurut salah satu ketuanya, Priyambodo RH, mendampingi Ketua Umum Margiono, menegaskan bahwa SJI cikal bakal di Palembang itu akan dikembangkan pula pada beberapa daerah lain di Indonesia.
Beberapa lembaga pers (PWI, AJI, IJTI), lembaga pendidikan pers (LP3Y dan LPDS juga LPJA/ANTARA), organisasi wartawan, perusahaan pers, pemda, dan pihak lain menurut Priyambodo siap mendukung keberlangsungan dan keberlanjutan SJI Palembang dan SJI di daerah lain yang dicanangkan segera beroperasi pula.
Harapan paling utama adalah ke depan SJI itu—bersama sekolah jurnalistik lainnya yang akan tumbuh—dapat mencetak para jurnalis profesional dan kompeten yang lebih sehat, bersih dan tidak “beracun”, untuk bisa menjamin mereka dapat menjalankan tugas dan fungsi pers dengan baik.
Ke depan, untuk mendapatkan para jurnalis yang profesional, kompeten dan berperilaku terpuji, bukan lagi sebuah mimpi, kalau lah SJI seperti di Palembang dan sekolah jurnalistik serupa di daerah lain, segera beroperasi makin banyak mencetak tenaga handal praktisi media massa yang terpercaya.
Dengan begitu, pers “abal-abal” dan wartawan “bodrex” serta mereka yang mengaku wartawan, tapi berperilaku layaknya preman dan tukang peras—perlahan tapi pasti akan hilang tergusur dengan sendirinya dari tengah masyarakat yang makin hiruk pikuk sekarang ini.
“Semua pihak yang peduli dengan pers dan jurnalis yang profesional dan kredibel, harus aktif bersama-sama mendorong lahirnya para wartawan dan media massa yang terpercaya seperti itu,” ujar Priyambodo, Direktur Eksekutif Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS) Jakarta itu pula. (Ant/h)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s