Terus Berkarya di Usia Tua

Posted: Agustus 3, 2010 in Suara SJI Angkatan III

Profil
Ismail Djalili

USIA boleh saja merambat senja, kesehatan boleh saja tergerus oleh penyakit. Tapi semangat untuk tetap berkarya tidak pernah pudar dalam diri Ismail Djalili, salah seorang wartawan senior di Sumsel.

Pria kelahiran Menggala, 26 Mei 1933 silam kini tengah diuji penyakit yang menurunkan kesehatannya secara fisik. “Namun secara mental atau batin masih tetap sehat sehingga saya tetap mampu memberikan pandangan dan analisa terhadap sesuatu kejadian,” ujar mantan Ketua PWI Sumsel tahun 1983 saat ditemui Suara SJI di kediamannya, Sabtu (24/7).

Sakit yang dialaminya, membuat Ismail tidak bisa berlama-lama duduk atau berbicara. Jika dilanggar, sesak napas akan datang dengan tiba-tiba dan pasti dibantu oksigen tambahan. Karena itu, Ismail panggilan akrabnya banyak menghabiskan waktu di tempat tidur dengan tabung oksigen yang selalu setia di sampingnya.

Keterbatasan itu tidak menyurutkan langkahnya untuk terus berkarya. Saat menelurkan karyanya saat ini, Ismail pasti meminta bantuan Lia (25). Lia adalah seorang wartawan muda yang juga mantan mahasiswanya. Setiap tulisan dari pemikirannya, Ismail dengan lantang menyampaikan pikirannya hingga menjadi sebuah tulisan.

Apa yang disampaikan Ismail, menurut Lia sangat runut, sistematis dan tajam. “Beliau sangat memperhatikan detail tulisannya. Bahkan titik dan koma tulisannya, pun diperhatikannya. Meski usia sudah 78 tahun tapi daya ingat sangat mengagumkan. Begitu juga analisanya terhadap sesuatu,” ungkap Lia yang mengagumi Ismail ini.

Meski “larut tua”, Ismail tidak pernah kekurangan ide untuk menghasilkan sebuah tulisan. Ide itu bisa didapatkan dari mana saja. “Apa yang saya lihat, dengar dan baca bisa menjadi kekayaan ide yang tidak ada habisnya. Begitu juga pengalaman hidup saya,” ujar pendiri Stisipol Candradimuka itu.

Ismail teringat dialognya dengan wartawan senior The Jakarta Post, Rosihan Anwar. Saat menjadi wartawan muda, Ismail pernah mengeluh dengan Rosihan Anwar soal kekurangan ide untuk menulis. Rosihan hanya meminta untuk membuka panca indranya lebar-lebar.

“Selama sungai Musi masih mengalir, maka ide sebuah tulisan tidak akan pernah kering. Asal kita mau membuka mata, hati dan telinga terhadap sesuatu,” ucap Isamil menirukan ucapan Rosihan Anwar.

Bukan kekayaan materi yang Ismail kejar dengan terus berkarya, karena secara materi ia hidup berkecukupan. Baginya ada kepuasan batin yang tidak bisa diukur dengan materi jika hasil karyanya bisa dibaca dan dinikmati oleh semua orang. “Ada kebanggaan jika hasil pikiran kita bisa dibaca oleh orang banyak. Terlepas apakah yang membaca itu setuju atau tidak dengan pemikiran saya,” ungkapnya.

Bagaimana dengan SJI? Ismail mengaku gembira dengan kehadiran SJI di tengah industri pers yang sedang marak saat ini. Menurutnya, SDM yang tidak punya ilmu, keterampilan dan pengalaman bagaimana bisa membangun profesi dengan baik. Kalau dulu, untuk menjadi wartawan hanya diperlukan bakat menulis saja. O EMI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s